cah soax

Minggu, 08 Mei 2011

PENGERTIAN HADITS PALSU (HADITS MAUDHU

A. PENGERTIAN HADITS PALSU (HADITS MAUDHU’)

Hadits maudhu secara etimologis merupakan bentuk isim maf’ul dari Kata يضع وضع. kata وضعMemiliki beberapa makna, diantaranya menggugurkan, meninggalkan, dan mengada-ada/ membuat-buat. Sedangkan pengertian maudhu’ menurut terminology ulama hadits adalah

هوما نسب إ لى ا لر سو ل صل الله عليه وسلم إختلا قا وكذباممالم يقله أويفعله أو يقره

“sesuatu yang dinisbatkan kepada rosulullah saw. Secara mengada-ada dan dusta, yang tidak beliau sabdakan, belia kerjakan atau belia taqrirkan”.

هوالمختلع المصوب الى رسول الله صلى الله عليه وسلم زورا وبهتانا سواء كان ذلك عمدا ام خطأ

‘’hadits yang diciptakan serta dibuat seseorang (pendusta), yang ciptaan itu dibangsakan rosulullah saw, secara palsu dan dusta”.

B. OBJEK BAHASAN HADITS PALSU

Ada banyak objek yang menjadi bahasan hadits palsu,. Disini kami akan mengambil beberapa saja dari objek-objek tersebut, diantara objek-objek tersebut adalah

Ø Hadits yang membahas tentang usia dunia, dimana di dalamnya mengatakan bahwa usia dunia itu hanya berusi sekian tahun dan akan qiama pada tahun yang telah mereka perhitungkan.

Ø Di dalam hadits maudhu’ membahas tentang pujian terhadap orang-orang yang bagus mukanya, atau yang ada perintah melihat mereka.

Ø Hadits yang di dalamnya membahas tentang keutamaan Ali, fatimah, dan juga memmuji golongannya.

Ø Hadits yang membahas tentang pujian terhadap beras, terong, delima, kismis, bawang, semangka, keju, bubur daging dan lainnya.

C. KEGUNAAN / FUNGSI HADITS PALSU

Para pembuat hadits palsu dalam menjalankan tugasnya, terkadang mengambil dari pikiran sendiri, dan terkadang menukil dari perkataan orang yang dianggap alim.

Hadits yang mereka buat itu mereka gunakan sebagai :

1. mempertahankan idiologi golongannya sendiri dan menyerang golongan lainnya.

2. untuk merusak dan mengeruhkan agama islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang – orang zindiq. Mereka itu adalah orang – orang yang mendongkol hatinya melihat kepesatan tersiarnya agama islam dan kejayaan pemerintahannya.mereka sakit hati melihat orang berbondong – bondonh masuk agama islam, karena islam menjamin kemerdekaak berpikir, memberikan kemuliaan pribadi dan kebeneran aqidahnya.untuk maksud mengeruhkan dan merusak agama, mereka membuat beribu – ribu hadits maudhu’, salah satu contahnya adalah :

رأيت ربى ليس بينى وبينه حجاب, فرأيت كل شيء منه, حتى رأيت تاجا مخوصا من اللوء

“aku telah melihat tuhanku dengan tanpa hijab antaraku dan Dia. Karena itu kulihat segala sesuatu, hingga kulihat sebuah mahkota yang terhias dari mutiara”

3. digunakan untuk membela madzhab atau pendirian masing – masing.

4. untuik mencari muka di hadapan para penguasa untuk mencari kedudukan atau mencari hadiah.

5. digunakan untuk membuat kisah – kisah dan nasehat – nasehat untuk menarik para pendengarnya.

Kisah yang mereka buat itu cilakukan berasal dari Muhammad saw. Misalnya kisal-kisah yang menggembirakan tentang surga, ia lukiskan :

فيها الحوراء من مسك اوزعفران, وعخيزتهاميل فى ميل, ويبوئ الله وليه قصرامن لؤلؤةبيضاءفيهاسبعون الف مقصورة, في كل مقصرة سبعون الف قبة, فلا يزال هكذا فى السبعين الفا لا يتحول عنها.

“di dalam surga itu terdapat idadari-bidadari yang berbau harum semerbak, masa tuenya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka di suatu istana yang terbuat dari mutiara putih. Pada istana itu terdapat 70.000 paviliun yang setiap paviliun mempunyai 70.000 kubah. Yang demikian itu tetap berjalan sampai 70.000 tahun tidak bergeser sedikitpun”.

D. SEJARAH DAN FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA HADITS PALSU

1) permulaan hadits palsu

Selama umat islam masih bersatu dibawah pimpinan empat kholifah Rasyidah, sebelum mereka terbagi ke dalam berbagai aliran dan sebelum mereka disusupi oleh pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab, hadits nabi saw masih murni, tidak termasuk kedustaan sama sekali. Ketegengan yang terjadi antara Amirul Mu’minin Ali Bin abi Tholib ra. Dan Gubernur Syam Mu’awiyyah ibnu Abu Sufyan ra. Memiliki dampak besar terhadap pecahnya umat dan kemunculan berbagai aliran keagamaan dan politik. Masing-masing ingin melegitimasi pendapatnya dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Yang jelas mereka tidak menemukan teks yng jelas yang mengukuhkan pendapatnya masing – masing, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Oleh karena itu sebagian mereka mencoba menta’wilkan Al-Qur’an dan menafsirkan hadits-hadits dengan pengertian yang sebenarnya tidak dikandungnya. Dan ketika sebagian mereka tidak menemukan apa yang mereka cari, karena banyaknya pakar yang hafal Al-Qur’an dan As-Sunnah maka mereka mencoba beralih kepada pola pemalsuan dan pendustaan atas diri Rosul saw. Sejak itu muncullah hadits tentang keutamaam – keutamaan kholifah Rosyidah yang empat, dan yang lain dari para pemimpin dan pemuka aliran, di samping muncul hadits – hadits yang secara tegas menyatakan pengukuhan atas kelompok – kelompok politik danaliran – aliran keagamaan serta yang lainnya.

Perlu ditegaskan bahwa pemalsuan hadits belum mencapai puncaknya pada abad ke satu dan kedua. Karena sebab – sebab pemalsuan belum muncul kecualibeberapa saat menjelang abad kesatu Hijriyah. Dan sebab – sebab itupun belum begitu banyak. Hadits – hadits maudhu’ tidaklah bertambah banyak kecuali karena bertambah banyaknya bid’ah dan pertikaian.dan jelas bahwa para sahabat , pemuku – pemuka dan ulama’ – ulama’ bid’ah dari kalangan tabi’in terhindar dari hal itu. Oleh karena itu sangatlah tidak mungkin pemalsuan itu muncul sebelum terjadinya pertikaian. Disamping itu kami juga beranggapan bahwa tidak mungkin ada sahabat yang turut membuat hadits – hadits palsu. Sangatlah tidak masuk akal, jika sahabat – sahabat agung yang rela mengorbankan jiwa dan harta mereka demi menegakkan agama Allah SWT membela Rosulullah SAW, berhijrah keberbagai daerah, menghadapi berbagai siksaan, merasakan pahit getirnyaperjuangan dan ganasnya musuh, dan sangat besar perjuangan sahabat dalam mendampingi Rosulullah SAW. Ada salah diantara mereka yang membuat – buat kepalsuan atas nama Rosul SAW. Padahal mereka tumbuh dalam bimbingan beliau, lulus dari lembaga pengajaran dan penbdidikan beliau. Mereka dalam keadaan sangat bertqwa, wira’i dan takut kepada Allah SWT. Karena alas an – alas an itulah kami jelas menafikan bahwa ada sdiantara mereka yang melakukan pemalsuan dan pendustaan atas diri Rosul SAW. Fakta sejarah selama masa hayat beliau maupun setelah beliau wafat mengukuhkan pendapat ini. Dalam hal – hal hadits palsu semua kedustaan atas para sahgabat harus dinafikan. Karena sungguh tidak mungkin mereka menyelami pekerjaan berdusta dan memelsu, setelah kita mengetahui pengorbanan mereka dan kecintaan mereka kepada Rosul SAW. Setelah mengetahui keadilan mereka berdasarkan dalil nqli, Al – Qur’an , dan al-hadits dan mengetahui semangat mereka terhadap syari’ah dan kegigihan mereka memegangnya dan menjaganya.

Tidak hanya menafikan para sahabat dari keikut sertaan mereka dalam memalsukan hadits-hadits, tetapi juga menafikan hal itu daripembesar-pemnesar dan ulama’-ulama’ tabi’in. perlu ditegaskan bahwa hal itu muncul dari orang-orang yang bodoh yang terdorong oleh adanya perbedaan politik maupun aliran sehingga berani melakukan kedustaan , dan memalsukan hadits atas nama Rosul SAW. Namun demikian, pemalsuan hadits pada masa tabi’in relative lebih sedikit disbanding dengan yang terjadi pada masa selanjutnya rekayasa pada masa itu, sebab masih sangat dekat dengan masa Rosul SAW. Dan karena pengrugh-pengaruh pengarahan beliau masih sangat kuat sebagai wujud pemeliharaan ataspesan-pesan beliau mencakup takwa, wira’I dan khasy-yah. Semua itu mengurangi merebaknya kedustaan dan meredam memuncaknya kedustaan.

2) faktor-faktor munculnya hadits palsu.

Dari begitu benyaknya factor yang nenyebabkan seseorang atau suatu golongan nenbuat hadits palsu, kani hanya mengamnbil beberapa saja, diantanya ialah :

· Golongan-golongn politik yang saling bertentangan

Pertentangan politikkekholifahan yang timbulsejak akhir kekholifahan ‘Ustman dan awal kekholifahan ‘Ali, merupakan sebab-sebab yang memunculkan hadits maudhu’. Di wakti itu timbul partai syi’ah dan golonagn mu’awiyyah. Dan setelah selesai perang shiffin timbul pula golongan khwarij. Diantara golongan-golongan tersebut , golongan syi’ah rafidlah adalah yang paling banyak membuat hadits maudlu’. Imam syfi’I berkata “saya tidak merlihat sesuatu kaum yang berani berdusta selain kaum rafidlah”.

Mereka membuat hadits-hadits maudhu’tentang keutamaan ‘Ali dan alil-bait (keluarga-keluarganya). Selain mereka membuat hadits maudhu’ yang isinya memuji golongannya sendiri, mereka juga membuat hadits maudhu’ yang isinya menjelek-jelekkan lawannya. Seperti hadirs maudhu’ yang digunakan untuk menjelek-jelekkan kaum mu’awiyyah;

اذارأيتم معا وية على منبرى فاقتلوه.

“apabila kamu melihat golongan Mu’awiyyah berada di atas mimbarku, maka bunuhlah”.

Pengikut golongan lain yang merasa golongannya dihina, segera pula membalas membuat hadits palsu untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepadanya.

Contoh hadits maudhu’ yang diciptakan oleh golongan yang membenarkan kekholifahan ‘Abu Bakar, ‘umar dan ‘Ustman ra.

ما فى الجنة شجرة الا مكتوب على ورقة, منها لااله الله محمد رسول الله, ابوبكرن الصدقيق ,عمرالفاروق, عثان ذوالنوترين.

“di surga tidak terdapat satu pohonpun, selain pohon yang daunnya ditulis dengan kalimat : La illiha illallah, muhammadur Rasulullah. Abu Bakar As-Shiddiq, ‘Umar Al-faruq, dan ‘Usman dzun-nurain”.

Selain hadits maudhu’ yang dicantumkan tadi, masihbanyak lagi hadits-haduts maudhu’ yang dari golongan abbasiyyah dan golongan khwarij.

· Fanatic kebangsaan, kesukuan, kedaerahan, kebangsaan dan kultus individu terhadap imam mereka

Mereka yang ta’ashub (fanatic) kepada bangsa dan bahasa Persia, sehingga nereka nengutarakannya dengan membuat hadits maudhu’ :

ان الله اذا غضب انزل الوحى با لعربيةواذارضى انزل الوحى با لفا رسية

“sungguh Allah itu apabila marah, menurunkan wahyu demgan bahasa arab dan bila rela, nenurunkan wahyu dengan bahasa persi”.

Kemudian mereka tersinggung dan membuat hadits maudhu’ untuk menandinginya :

ان الله اذا غضب انزل الوحى بالفارسية واذارضى انزل الوحى بالعربية

“sungguh Allah itu apabila matah, nenurunkan wahyu dengan bahasa persi dan bila rela, menurunan wahyu dengan bahasa arab”.

· Adanya Perbedaan madzhab dan teologi

Disamping pemalsuan yang dilakukan oleh para pengikut aliran politik tentu demi memperkuat pendapat dan golongan mereka, ada juga penalsuan yang dilakukan oleh para pengikut nadzhab fiqh dan teologi. Nisalnya hadits palsu

من رفع يديه فى الصلا ةفلاصلاةله

“barang siapa yang mengangkat tangannya letika rukuk, maka tiadalah shalatnya”.

كل من فى السموات والارض وٕمابينهما فهومخلوق غيرالله والقران, سيجيئ اقوام من امتى يقولون: القران مخلوق فمن قال ذلك فقدكفربالله العظيم وطلقت منه امرأته من ساعتها

“semua yang ada dilangit dan di bumi dan yang ada di antara ke duanya adalah makhluk , kecuali Allah ean Al-Qur’an. Dan akan ada dari orang-orang yang mengatakan : al-Qur’an itu adalah makhluk. Siapa diantara merela yang mengatakan hal itu, maka ia telah kafir kepada Allah yang maha Agung, yang istrinya tercerai saat itu juga”.

E. KRITERIA HADITS PALSU

Setiap hadits pasti memiliki criteria atau cirri khas tersendiri. Begitu juga dengan hadits naudhu’ juga nemiliki criteria. Adapun criteria hadits maudhu’ itu mencakup :

1) Kepalsuan pada sanad

Ø Bila disebut hadits terdapat periwayat yang dikenal sebagai seorang yang pembohong tanpa ada orang tsiqoh mau mengambil hadits darinya. Sifatnya sebagai pembohong itu dapat diketahui dari biodatanya.

Ø Pengakuan gari sipembuat hadits itu sendiri, seperti pengakuan dari seorang giru tasawef, ketika dittanya oleh ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat al-Qur’an, serentak menjawab :

لم يحدثنى أحد٬ ولكنارأيناالناس قدرغبواعن القران فوضعنالهم هذاالحديث ليصرفواقلوبهم إلى القران

“tidak seorangpun meriwayatkan hadits kepadaku . akan tetapi serentak kami melihat nmanusia-manusia sana membenci al-Qur’an, kaniu ciptakan untuk mereka hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat alQur’an) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an.”

Pengakuan seoarang rowi menurut ibnu daqiqi’i-‘id , belum dapat dipastikan memalsukan suatu hadits, karena mungkin sekali siperowi itu bohong dalam pengkuannya.

Ø Adanya indikasi yang memperkuat pengakunnya membuat hadits palsu.

Suatu missal seorang perowi mengaku pernah menerima hadits dari seorang giru, padahal ia tidak pernah bertenu dangan guru tersebut. Atau menerima dari seorang guru yang telah meninggak sebelum ia dilahirkan.

2) kepalsuan pada matan

Criteria yang terdapat pada matan dapat dapat di tinjau dari beberapa segi, diantanya :

Dari segi maknanya maka hadits itu bertentangan dengan alQ-ur’an, dengan hadits mutawatir, dengan ijma’ dan dengan logika yang sehat.

Contoh hagits maudhu’ yang maknanya bertentangan dengan al-Qr’an adaklah sebagai berikut :

ولد الزنا لايدخل الجنة إلى سبعة أبناءا

“anak zina itu tidak dapat masuk surga sampai tujuh keturunan”

Makna hadits tersebut bertentangan dengan makna surat al-am’am 164 :

ولاتزروازةوزرأخرى

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Kandungan ayat tersebut menjelaskan bahwa dosa seseorang tidak dapat dibebankan ne[pada orang lain, sampai seorang anak sekalipun tidak dapat dibebani dosa orang tuanya.

Contoh hadits yang bertentagan dengan sunah mutawatir adalah hadits yang memuji orang-orang yang memakai nama Muhammad atau Ahmad :

و ا نّ كلّ من يسممىّ بهذ ه الا سمء (محمد و احمد ) لا يد خل ا لنا ر

“bahwa setiap orang dinamakan dengan (Muhammad adan Ahmad semisaknya) ini, tidak akan di masukkan di neraka.”

Hadits tersebut sangat bertentangan dengan sunah-sunah Rosul SAW yang menerangkan bahwa neraka itu tidak dapat diyembus dengan nama-nama tersebut, akan tetapi keselamatan dari mereka itu keimanan dan amal sholeh.

Contoh hadits yang bertentangan dangan ijma’ , ialah hadits-hadits yang dikemikakan oleh golongan syi’ah, tentang wasiat Rosuk SAW kepada ‘Ali ra. Untuk menjadi kholifah , yang menurut mereka bahwa sahabat sepakat untuk menghendaki wasiat tersebut.

ان كل من يسمى بهذه الاسماء(محمدواحمد) لايدخل النار

“bahwa Rosul telah memegang tangan ‘Ali bin Abi thalib ra. Di hadapan parab sahabat seluruhnya, yang baru kembali dari haji wada’. Kemuidian Rosulullah SAW membangkitkan ‘Ali , sehimgga para sahabat mengetahui semuanya. Lalu beliau bersabda; ini adalah wasiatku (orang yang say a beri wasiat) dan saudaraku, serta kholifah setekah saya nanti. Oleh karena itu dengarlah dan taatilah ia.”

Hadits itu adalah meudhu’, karena bertentangan dengan ijma’ seluruh umat, bahwa Rosul SAW tidak menetapkan (menunjuk) seorang pengganti sesudah beliau meninggal dunia.

Dilihat dari segi lafadznya , yaitu bila susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih. Termasuk dalam hal ini ialah susunan kalimat yang sederhana, tetapi isinya berlebih-lebihan. Umpamanya berisikan pahala yang besar sekali bagi amak perbuatan yang sedikit (kecil). Suatu masal dalam contoh berikut :

لقمة فى بطن جا ئع أفضل من بناء الف جامع

“sesuap makanan di perut si lapar, adalah lebih baik dari pada membangun seribu masjid jami’. “

Jika ketidak fasihan hadits itu, hanya terletak pada redaksinya saja, sedangkan isinya tidak kacau, menurut pendapat ibnu hajar , tidak dapat dipastikan sebagai hadits maudhu’. Sebab ada kemungkinan bahwa rowi hanya meriwayatkan maknanya saja, sedangkan redaksinya yang ia susun sendiri kurang fasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar